Senin, 06 November 2017

Belajar dari Sang Kiai


Sumber Foto: takanta.id
Oleh: Asrul Pauzi Hasibuan

Pemimpin ialah orang yang memimpin, petunjuk, buku petunjuk (pedoman) yang asal katanya “pimpin”.1 Sedangkan Menurut Kartono (2010:18), pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
            Ada yang perlu disoroti dari apa yang dikemukakan Kartono, yaitu pemimpin ialah sosok yang memiliki kecakapan dan kelebihan dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Penulis sepakat dengan apa yang dikemukakan Kartono, karena pemimpin ialah sosok yang mesti dapat mempengaruhi orang lain sebab kecakapannya dalam memimpin, dan juga sosok yang telah mendapat legalitas untuk memimpin suatu organisasi yang kemudian legalitas ini mendukung kemampuan leadership seorang pemimpin tersebut.
Legalitas itu dioptimalkan dengan amar ma’ruf nahi munkar yang salah contohnya ialah ketika ketua organisasi tempat dimana kita mengaktualisasi diri mengajak untuk melakukan sesuatu yang baik, semisal sholat di awal waktu.

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ الْعَيْزَارِ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَسَأَ لْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِ ـ (رواه البخارى رَقْم ٤٩٦ )

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid Hisyam bin 'Abdul Malik berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah mengabarkan kepadaku Al Walid bin Al 'Aizar berkata, Aku mendengar Abu 'Amru Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menceritakan kepada kami -seraya menunjuk rumah 'Abdullah - ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." 'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa kagi?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orangtua." 'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa kagi?" Beliau menjawab: "Jihad fi sabilillah." 'Abdullah berkata, "Beliau sampaikan semua itu, sekiranya aku minta tambah, niscaya beliau akan menambahkannya untukku.” (HR. Bukhori No. 496).2
Bahkan posisi yang stategis di dalam satu organisasi juga dimanfaatkan oleh anak dari Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyarie, KH Abdul Wahid Hasyim. Suatu ketika, misalnya, Wahid Hasyim mengingatkan sebagian pemimpin Masyumi, yang dianggapnya mengabaikan waktu salat saat bersamuh. Pemimpin sidang menjawab urusan yang dibahas tak bisa ditinggalkan.3
            Dari sana, organisasi ialah ruang dimana sekumpulan orang saling menebar kebaikan dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran untuk mencapai tujuan secara bersama-sama. Memanfaatkan kesempatan dimana saling menguatkan dalam menjalankan perintah-Nya dan menghindari apa yang dilarang-Nya, takwa, agar kemudian menjadi amal jama’i, beriringan dengan menyelesaikan misi-misi untuk visi bersama. Sebab takwa ialah hal yang perlu terus menerus dipupuk dalam setiap diri dan perlunya saling mengingatkan. Dalam pandangan Islam, bahwa ilmu pengetahuan tidaklah dianggap sebagai satu syarat hidup yang dapat berdiri sendiri. Di samping pengetahuan, diletakkan syarat lain, yaitu takwa... dua sayarat hidup tadi, ilmu dan takwa, dalam pandangan Islam tidak mungkin dijauhkan dan harus sama-sama cukup lengkap.4 Dari sana, kita tahu urgensi dari takwa juga ketajaman berpikir yang akan memproduksi hujjah untuk berdialektika, terlebih bagi pemimpin.
            Ketajaman berpikir pun adalah hal yang mesti dimiliki oleh pemimpin organisasi –begitu pun anggotanya mengikuti kemudian, di samping takwa tadi, yang artinya pemimpin mesti bertakwa dan juga berilmu. Kemajuan otak tidak disertai dengan kemajuan budi pekerti atau takwa telah menyebabkan nilai dan pandangan manusia jadi berubah banyak, tidak ke atas tapi ke bawah.5
                Sebelum tulisan yang jauh dari kata baik ini diakhiri, penulis akan mensarikan apa yang kemudian KH Wahid Hasyim utarakan dalam menjawab keinginan orang-orang yang tidak menginginkan Kementerian Agama (Kemenag). Saat itu orang-orang yang ingin Kementrian Agama dibubarkan berpendapat, beberapa pendapatnya bahwa Kemenag tidak dibutuhkan karena tugas-tugas Kemenag dapat diemban oleh kementerian-kementerian yang telah ada, seperti Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kehakiman.
            KH Wahid Hasyim tetap pada pendiriannya, menurut beliau negara tetap perlu melayani masyarakat mengenai persoalan-persoalan agama. Kendati pun fungsi-fungsi Kemenag dapat dilakukan kementerian lain, KH Wahid Hasyim mengingatkan jika pembubaran itu terjadi akan menyinggung perasaan umat Islam. Karena dalam perjalanan pembentukannya pada tahun 1946, kementrian ini ada untuk menjawab keinginan banyak umat muslim untuk ada satu departemen yang dapat mengkoordinir persoalan-persoalan agama.
            Ada 3 tipologi  masyarakat yang memiliki persepsi soal Kemenag yang disinggung oleh KH Wahid Hasyim dalam pidatonya pada Konperensi antara Kementerian Agama dan Pengurus-pengurus Besar Organisasi Islam Non-Politik, pada November 1951, yaitu,6
Kelompok pertama, mereka yang tidak senang atas Kemenag karena dianggap akan mengganggu prinsip-prinsip mereka sendiri. Kelompok pertama ini ialah mereka yang tidak memiliki semangat keagamaan atau sekuler.
Kelompok Kedua, mereka yang antusias menyambut kementerian ini, dan cenderung menyandarkan harapan yang tinggi. Kelompok ini adalah umat Islam umumnya yang menjadi mayoritas penduduk.
Kelompok Ketiga, mereka yang menyambut baik tapi dengan sikap khawatir bahwa kementerian ini akan mengganggu mereka. Kelompok ini datang dari kalangan agama minoritas.
            Dalam buku Deliar Noer, “Partai Islam di Pentas Nasional”, sang Kiai berpendapat adalah suatu yang wajar bila Kemenag memberi perhatian yang lebih pada umat muslim yang berdasarkan fakta bahwa umat Islam merupakan mayoritas, yang tentu perlu perhatian ekstra untuk merawat komunitas yang besar. Itu dilakukan bukan karena diskriminasi namun karena jumlah umat Islam yang besar. Pendapat itu keluarkan untuk menjawab keberatan kalangan non-muslim atas Kemenag yang mereka pikir lebih banyak mengurusi umat Islam.
            Kemudian apa yang dilakukan KH Wahid Hasyim dapat membungkam orang-orang yang mengeritik kementerian ini hingga kementerian ini tetap bertahan, bahkan sampai batas-batas tertentu beliau dapat meyakinkan kalangan non-muslim untuk tidak perlu khawatir terhadap keberadaanya. B.J Bolland dalam salah satu bukunya menegaskan, “Wahid Hasyim-lah yang mengorganisasi Kementerian Agama sehingga menjadi penting dan meninggalkan jejaknya di situ.”
Wallahu ‘alam bishowab

Catatan Akhir:
[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pemimpin diakses pada 6 November 2017 pukul 10.27 WIB
[2] Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist diakses pada 6 November 2017 pukul 11.57 WIB
[3] Majalah Tempo Edisi 18 April 2011
[4] H. Aboebakar, Sejarah Hidup. hlm 815
[5] H. Aboebakar, Sejarah Hidup. hlm 815
[6] H. Aboebakar, Sejarah Hidup. hlm 873-875

Senin, 04 September 2017

MPA dengan Segala yang Ada Padanya

Dokumentasi Panitia MPA UNJ 2015
Oleh : Asrul Pauzi Hasibuan



Pada semua itu, dik, ada macam-macam harapan yang kemudian disematkan atas pundakmu. Harapan yang sedari dulu memang diletakkan pada pundak setiap pemuda. Harapan yang lahir atas mata yang terbelalak melihat semangat yang berapi-api dan akal yang darinya berpendaran cahaya rupa-rupa. Agent of Change, Social Control, Moral Force dan Iron Stock, mungkin itu yang dapat kita rumuskan dari apa-apa yang orang banyak harapkan. Tentu, ada harapan lain dari ke-empatnya:  semoga ke-empatnya bukan "jargon-jargon" kosong.

Dimana 4 fungsi tadi berarti,
Agent of Change, kita diharapkan menjadi seorang yang membawa perubahan. Entah itu melalui gagasan-gagasan ataupun dengan sumbangsih alat baru yang kita temukan. Social Control berarti kita dapat memaksimalkan posisi kita yang strategis: di antara masyarakat dan pemerintah, yang memudahkan kita menyampaikan aspirasi-aspirasi untuk para petinggi negeri saat ada keputusan yang jauh dari kata mensejahterakan masyarakat. Moral Force kita dapat menjadi pembentuk moral di tengah-tengah masyarkat dengan campaign semisal “mari budayakan membuang sampah pada tempatnya”; “Ayo jujur dalam ujian”: “Ayo tolak suap” dst. Tentu campaign tidak akan berjalan dengan baik tanpa teladan dan sosialisasi yang rasional mengenai kenapa tindakan tersebut harus diambil. Lalu Iron Stock berarti kita sedini mungkin menyiapkan setiap diri kita untuk kemudian mengisi posisi-posisi yang strategis untuk membawa perunbahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sudah banyak narasi yang menceritakan kenekatan apa-apa yang kita --pemuda- ambil, malah sering kali tindakan-tindakan itu dianggap tidak ada artinya oleh orang-orang yang lebih tua dari kita. Peristiwa Sumpah Pemuda, Sjahril yang merelakan masa studinya sampai akhirnya “singgah” di digul, Penculikan dwitunggal,  Tritura yang diusung hingga Bung Besar "turun panggung", Peristiwa malari yang hingga pecahnya Reformasi, bahkan tuntutan terhadap peniadaan uang pangkal bagi mahasiswa baru jalur mandiri dan penolakan terhadap kenaikan nominal UKT pada beberapa golongan UKT di kampus kita 2016 lalu.

Saya ingin sedikit berkisah, tidak mudah memang menyiapkan sambutan --di kampus kita dikenal: MPA- untuk kalian: birokrasi yang berbelit, misalnya --meski katanya ini kolaborasi birokrat dan mahasiswa. Saat mengurus surat peminjaman tempat mesti ganti-ganti tujuan disposisi. Bahkan mendadak ada gedung yang katanya tak boleh digunakan untuk tempat menyambutmu, dik. Atas dalih seluruh ruangan di gedung itu bukan tempat acara apapun selain ruang pembelajaran. padahal dari namanya pun --Masa Pengenalan Akademik-, kita tahu bahwa barang tentu ini menyangkut pembelajaran, walaupun hanya sekadar pengantar. Singkat cerita setelah sowan ke rektorat, menemui wakil rektor bidang kemasiswaan beserta jajarannya akhirnya ruangan-ruangan itu diperbolehkan untuk digunakan.

Dalam kesulitan-kesulitan itu muncul kekhawatiran, tak lepas akibat tahun lalu mendadak MPA dipegang oleh birokrat, muncul prasangka-prasangka bahwa drama-drama yang sama akan dimainkan. "Semangat!, daripada mereka kemudian akan dicekoki hal-hal muluk yang melulu mengenai akademik, IPK tinggi", kata seseorang pada waktu itu. Itu yang kemudian membawa kami ingin menyiapkan konten acara yang spesial, paling tidak, memberi tahu, bahwa mahasiswa punya tugas lebih dari sekadar berbicara nilai dan nilai.

Bahwa benar, dari setiap rajutan benang yang bersilangan membentuk almamater kebanggaan --meski sampai saat ini kalian belum mendapatkannya- kita, ada tangisan dan keringat orang-orang papa. Uang Kuliah Tunggal yang mesti dibayarkan setiap semester adalah hasil selisih Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri dengan Biaya Kuliah Tunggal. Dimana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) berasal dari pajak negara. Bantuan operasional perguruan tinggi negeri yang selanjutnya disingkat BOPTN merupakan bantuan biaya dari Pemerintah yang diberikan kepada perguruan tinggi negeri untuk membiayai kekurangan biaya operasional sebagai akibat adanya kenaikan sumbangan pendidikan di perguruan tinggi negeri, bunyi pasal 1 Permenristekdikti No. 6 Tahun 2016 Tentang BOPTN.

            Maka adalah suatu yang tak berlebihan bahwa kita mesti menjalankan 4 fungsi yang telah dipaparkan di atas dengan baik, sebagai wujud kontribusi untuk masyarkat banyak. Percayalah, dengan kita paham fungsi kita bukan berarti nilai diabaikan, malah itu harusnya menjadi pecutan. Bahwa memiliki banyak aktifitas kebaikan bukan alasan penghambat kita mendapatkan prestasi akademik yang menawan.

Wallahu ‘alam bishowab.

Minggu, 03 September 2017

Menyelami Bapak Koperasi Indonesia dari Buku “Soekarno, Hatta, Syahrir Kisah dan Memoar Tiga Macan Asia di Tengah Hiruk Pikuk Perjuangan”


Sumber Gambar: unjkita.com

Oleh: Asrul Pauzi Hasibuan

Moh Hatta. Ia lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Seorang peranakan dari keturunan ulama dan pengusaha. Bapaknya, Muhammad Djamil ialah seorang guru mursyid sekaligus pengusaha yang juga anak dari seorang pemimpin pondok pesantren di Batuhampar yang cukup terkenal pada masanya, yakni Syaikh Abdurrahman yang biasa dikenal dengan sapaan Syaikh Nan Tuo. Sementara keluarga Ibunya, Siti Saleha, merupakan keluarga yang dikenal bergerak dibidang usaha. Ayah dari Ibu Siti Saleha bernama Ilyas yang mempunyai gelar Bagindo Marah yang memiliki relasi dagang sampai ke Sawahlunto dan Lubuk Sikaping.

            Maju pada masa-masa perjuangan si Ghandi of Java –Demikianlah Hatta disebut oleh media Jepang dipertengahan ’30-an-. Perjuangan telah “bermutasi” dalam pikirannya dengan semangat untuk memerdekakan Indonesia sebagai buktinya. Hal itu diperngaruhi dengan rekam jejak kehidupannya. Termasuk saat ia menimba ilmu di Belanda dan di sana ia dikenal sebagai si kutu buku dengan perangai yang religius yang tidak suka berfoya-foya dengan wanita juga tidak meminum minuman beralkohol, sebagaimana pelajar-pelajar lainnya di Belanda. Dengan demikian ia mendapat ejekan dari teman-temannya dan juga dianggap sok alim.

            Pemikirannya diimplementasikkannya dengan terbentuknya PNI-Baru. Organisasi yang berakronim Pendidikan Nasional Indonesia-Baru. PNI-Baru mulanya dipimpin oleh Sjahrir karena saat itu Moh Hatta ingin menyelesaikann tugas akhirnya. Saat tugasnya selesai, Moh Hatta pulang ke tanah air bersiap mengemban amanah menjadi pemimpin PNI-Baru dan Sjahrir melanjutkan studinya yang sempat tertunda untuk mendirikan PNI-Baru. Saat Sjahrir ingin ke Belanda, Belanda yang telah mendengar betapa berpengaruhnya organisasi “pengganti” PNI kepemimpinan Soekarno ini langsung bertindak represif dengan menangkap pemimpin-pemimpin PNI-Baru. Beberapa di antaranya, Moh Hatta dan Sjahrir. Mereka ditangkap oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tanggal 25 Februari 1934.

            Penangkapan itu ialah penangkapan kali kedua yang sebelumnya ia alami pada tanggal 25 September 1927 saat ia menjabat di PI (Perhimpunan Indonesia). Begitulah jalan pejuang, hari-harinya tak jauh dari ancaman. Mesti harus ada yang yang dikorbankan untuk menggapai cita-cita bersama. Begitupun urusan cinta. Ia, Bapak Koperasi Indonesia, menunjukkan kesungguhannya dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan komitmen tak akan menikah sebelum kemerdekaan telah berada di pangkuan ibu pertiwi.

            Di tengah usaha menggapai kemerdekaan di era pergerakan nasiona, Hatta tak pernah sekalipun meninggalkan shalat lima waktu. Bahkan ia kerap melakukan puasa Senin-Kamis sebagai aktivitas ibadah sunnah. Begitulah ia, Bung Hatta sang pemimpin yang gila buku. Latar belakang keluarga yang relijius menjadikan ia seorang pejuang nasional yang relijius. Komitmennya untuk tidak menikah sebelum Indonesia benar adanya, murni kesungguhan hatinya. Sampai akhirnya Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945: sebuah penggalan-penggalan peristiwa yang menyusunnya dalam bentuk utuh, sebuah kemerdekaan. Kisah penculikan dwitunggal ke Rengasdengklok pada 17 Agustus 1945 yang bermaksud mendesak dwitunggal segera memproklamirkan kemerdekaan pun menjadi sekelumit cerita sebelum akhirnya Indonesia merdeka. Romansa cintanya pun terwujud tak lama selepas kemerdekaan. Tepat pada bulan November 1945 Moh Hatta menikahi Rahmi diusianya yang telah mencapai 43 tahun.

            Singkat cerita, setelah tak lagi mendampingi bung besar, beliau, Moh Hatta, mengalami pasang surut kehidupan bersama keluarga kecilnya. Biaya listrik yang mesti dipikirkan, uang “pensiunan” yang terbilang kurang besar dan sepatu yang diinginkan tak terbeli hingga ajalnya datang. Dari banyak hal yang dapat diteladani setelah beliau tak lagi menjadi wakil dari Ir. Soekarno –karena perbedaan pandangan- ialah, beliau bukan serta merta memutus tali silaturahmi. Saat Panglima Revolusi mengalami sakit dan akhirnya wafat, Moh. Hatta pun ikut mendampingi presiden RI pertama itu.

Kamis, 31 Agustus 2017

Mudik yang Begitu Puisi*


Oleh: Asrul Pauzi Hasibuan

Mudik adalah rindu yang kemudian ditumpahkan pada tanah-tanah kelahiran kita –atau tanah asal keluarga kita. Semua akan basah kemudian tumbuh reragam kenangan yang mekar kembali dalam ingatan. Bersemi dalam nuansa tenang yang fitri saling berdamai pada yang lalu-lalu, saling memaafkan satu sama lain. Pada momen itu, fitri menjadi sebenar-benarnya fitri, selepas semua saling melapangkan dada untuk saling memaafkan, begitu suci.

Mudik adalah sesuatu yang dirindukan, bagi banyak orang tua yang ditinggal anaknya merantau kelain kota, provinsi, pulau dan juga negara bahkan lain benua. Banyak moda transportasi yang kemudian pemudik gunakan, sesuai jarak dan terlebih lagi kemampuan.

Pada suatu kesempatan penulis pulang ke kampung halamannya. Kampung yang dari sanalah asal-usul keluarganya berasal, suatu desa di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Dengan moda transportasi kendaraan roda empat yang tentu akan membawa banyak cerita dan keseruan, sebab waktu yang dihabiskan dalam perjalanan cukup lama, kurang lebih 3 hari.

Keseruan itu hadir sebab keikhlasan dan kerinduan, ikhlas menjalankan sesuatu yang cukup membuat penat demi melepas kerinduan bertemu sanak saudara tercinta di kampung halaman. Tidak dipungkiri, kepenatan itu menghampiri, di tengah kondisi lalu lintas yang padat, tak bisa diajak kompromi. Namun, semua itu terobati, dengan bayang-bayang perjumpaan sanak famili di kampung halaman yang telah lama dirindui.

Keseruan itu bisa muncul dari tawa-tawa seisi kendaraan yang acap kali menggelegar sebab guyonan-guyonan khasnya. Pun dengan ketidaksabaran adikku yang berucap, “aku mau berenang di sungai saat sampai di kampung nanti, bang”, katanya padaku. adikku mengatakan keinginannya dengan senyum yang mengembang. Bayang-bayangnya telah sampai pada keseruan-keseruan di kampung halaman nanti.

            “iya, nanti kita berenang di sungai juga memancing ikan ya nanti di kampung”, jawabku yang membuatnya semakin tak sabaran untuk segera tiba di kampung halaman. Ditambah dengan harapan-harapannya ketika sudah sampai di kampung. Sampai harapannya tentang jumlah THR yang akan di dapat. THR, Salah satu alasan kenapa banyak anak-anak merindukan hari raya Idul Fitri.

Di kampung, banyak sesuatu yang tidak kita dapatkan di tengah rutinitas kehidupan kota metropolitan, Jakarta. Di kampung, segala sesuatunya dapat melepaskan kepenatan yang sering kali didapat di kehidupan kota. Senyum dari nenek-nenekku; Desau aliran sungai yang begitu puisi; Kesiur angin yang menciptakan simfoni ketika dedaunan pohon kelapa bergesekan; Suara-suara jangkrik yang setia di malam hari. Begitu masih alami. Puisi sekali.

Di kampungku, ada semacam budaya membuat dodol dalam skala besar untuk menyambut hari yang fitri. Dodol yaang terus diaduk dalam waktu berjam-jam dalam kuali yang amat besar dan dikerjakan dua orang atau lebih. Terus diaduk, meghindari dodol yang kelewat masak (gosong) sebab mengendap tidak diaduk secara kontinyu. Sebelum dodol dituang kedalam tikar yang dianyam dan dibentuk semacam tabung dari daun pandan. Bocah-bocah terburu-buru mendekati tempat pembuatan dodol itu, mereka menginginkan bubur dodol tersebut: dodol yang sedikit lagi akan matang. Begitu lembut teksturnya dan begitu manis rasanya. Dodol itu di kampungku khususnya dan umumnya di Sumatera Utara disebut “alame”.

Dalam meyambut hari yang fitri itu pun kami membuat “lomang”, ketan yang dimasak di dalam bambu yang sebelumnya dalam bambu tersebut di lapisi daun pisang dan kemudian dimasak dengan cara dibakar. Makanan yang satu ini cukup familiar dibanding alame.

Makanan-makanan telah siap, kami pun siap menyambut hari yang fitri itu. Kemudian kami melaksanakan sholat iedul fitri pada tanggal 1 syawal yang di laksanakan di tanah-tanah lapang, lengkap dengan mauizoh hasanah setelah sholat iedul fitri yang dimana khotbah pada sholat ied ialah rukun sholat ied itu sendiri. Dilanjut dengan ziarah ke makam sanak saudara yang telah mendahului kami yang masih hidup setelah sholat. Sesampainya di rumah nenek, semua pun saling memaafkan. Tangis pecah, sebab kerinduan yang telah menjadi-jadi di tanah rantau juga ekspresi syukur sebab pulang ke kampung halaman belum bisa dilakukan setiap tahun. Ayah memeluk nenek, begitupun mama. Tergambar begitu rindu yang tertahan telah mengendap dalam waktu yang cukup lama –2-3 tahun. Selesai saling bermaaf-maafan di rumah nenek, lalu kami berkeliling untuk saling memaafkan, ke tempat-tempat tetangga.

Setelah tradisi-tradisi lebaran itu, kami menghabiskan waktu di kampung untuk silaturahmi, sowan ke rumah-rumah sanak famili dan liburan dengan alam yang kampung kami sajikan: berenang di sungai, memancing ikan, meminum air kelapa yang langsung kami lihat proses pemetikannya yang dibantu oleh seekor kera dan juga datang ke kebun-kebun kami untuk melihat perkembangannya.

Percayalah, kelelahan dalam perjalanan terobati dengan apa-apa yang kampung kita saji. Masyarakatnya yang begitu ramah-tamah. Rasa persaudaraan yang antar warga munculkan. Kesemuanya memang membuat kita bahagia di hari yang fitri. Indah sekali. Kemudian mudik mesti dipersiapkan dini, untuk tahun depan berkesampatan mudik lagi. 

 *) Salah satu tulisan yang terpilih menjadi pemenang harian Lomba Blog Cerita Lebaran di kolom Klasika koran Kompas Juli 2017